1
Dia gagal lagi.
Ilodel menghela napas panjang di depan papan pengumuman penerimaan. Kali ini benar-benar sempurna. Dia tidak menunjukkan sifat sensitif yang selalu dikritik darinya, dan dia juga berusaha keras menyembunyikan kecintaannya pada tanaman beracun. Dia sudah berakting sekuat tenaga menjadi mahasiswa departemen pengobatan herbal yang cerdas dan penuh semangat, tetapi mengapa dia masih tetap gagal? Tentu saja dia terus-menerus mengabaikan permintaan pewawancara untuk menyebutkan namanya, tetapi itu hanyalah masalah sepele.
"Hei, Ilodel, apakah kau berhasil lulus?"
Seorang teman seangkatan dengan tampang sok polos menyapanya. Ilodel mengabaikannya begitu saja. Jika dalam situasi normal, dia setidaknya akan menjawab, tetapi bajingan itu lulus hari ini.
"Jangan terlalu berkecil hati. Kau masih punya satu kesempatan lagi sebelum kelulusan."
Meski berkata begitu, dalam hati dia pasti sedang menertawakannya. Bahkan dia sudah muak menghitung berapa kali dia gagal. Bahkan di korps medis cadangan, yang katanya orang lain hanya perlu menyerahkan dokumen mereka, tetap saja dia dianggap tidak dibutuhkan.
Pengumuman penerimaan itu berikan hanya kepada mereka yang lulus. Dia ingin sekali menendang papan pengumuman itu hingga hancur berkeping-keping, tetapi dia menahan diri sekuat tenaga. Hari ini, membuat keributan tidak akan ada gunanya baginya.
"Terima kasih."
Dia mati-matian mengatur ekspresi wajahnya. Mengernyitkan alis sedikit saja akan menjadi bahan gosip. Alih-alih menendang papan pengumuman, dia bergegas ke perpustakaan dan mengunci pintunya dari dalam. Karena
semua orang sedang berkerumun di depan papan pengumuman, jadi perpustakaan kosong. Mungkin saja akan ada mahasiswa yang datang nanti, tetapi persetan dengan itu. Biar semuanya hancur.
Mata Ilodel berkilat bagaikan orang gila, kemudian dia dengan gegabah menutup paksa buku-buku yang ditinggalkan seseorang dalam keadaan terbuka. Dia menukar tas yang tersampir di kursi dengan tas lain, dan membalikkan kursi yang tidak ada tasnya. Bahkan setelah melakukan itu, amarahnya belum mereda, sehingga dia berjalan mondar-mandir sambil menghentak-hentakkan kakinya hingga terengah-engah, lalu terduduk lemas di lantai karena kelelahan sendiri dengan bunyi gedebuk.
Dunia sialan. Dia tidak meminta banyak hal. Asalkan bukan rumah yang menyesakkan itu, dia ingin pergi ke mana saja, tetapi seolah tidak ada satu tempat pun yang membutuhkannya. Alasannya sudah jelas. Karena dia adalah
Ilodel Rockfuss. Karena dia adalah putra kedua dari keluarga Rockfuss dan seorang Beta.
Di dunia terkutuk ini, ada juga yang namanya keluarga terkutuk. Sebenarnya dia tidak peduli seberapa berharganya garis keturunan yang selalu mereka agungkan, tetapi keluarga Rockfuss terkenal sebagai keluarga yang terus menerus melahirkan Alpha. Dan dia satu-satunya pengecualian - seorang Beta. Pasti salah satu dari kedua orang tuanya pernah melakukan penyimpangan yang mendebarkan atau semacamnya. Sejujurnya itu akan lebih baik. Jika dia anak haram, dia akan memiliki alasan yang sah untuk hidup mandiri. Namun, dilihat dari depan maupun belakang, dikuliti luar dan dalam pun, Ilodel adalah
anak sah keluarga Rockfuss.
Matilah kalian semua, bajingan sialan. Mati saja semuanya. Saat Ilodel yang sedang meringkuk sambil merapalkan sumpah serapah yang tidak ditujukan kepada siapapun secara khusus. Sebuah bayangan seseorang perlahan menyelimutinya.
"Kamu lagi ngapain?"
Ilodel hanya memutar matanya untuk memastikan siapa orang itu, lalu kembali membenamkan kepalanya di antara lututnya. Rambut hitam dan mata biru yang menjadi ciri khas keluarga Rockfuss. Dia tahu wajah orang itu mirip dengannya karena lahir pada hari dan jam yang sama, tetapi bagaimanapun juga, otaknya menolak hubungan persaudaraan dengan Tibern Rockfuss. Di masa lalu, sekarang, maupun masa depan, dia adalah wajah yang paling tidak ingin dilihat Ilodel.
"Kalau kau sudah selesai mengamuk, bukankah sebaiknya kau kembali? Aku sibuk hari ini."
"Enyahlah."
"Ini bukan pertama atau kedua kalinya kau gagal, jadi kenapa kau histeris? Lagi pula, tidak ada yang berharap kau akan lulus."
Dari mana sih bajingan ini masuk? Pandangan Ilodel yang mengembara langsung tertuju pada jendela yang terbuka. Perpustakaan ini berada di lantai tiga, dan bocah sialan ini memanjat dinding lantai tiga untuk naik. Benar-benar mirip laba-laba yang menjijikkan. Ilodel langsung bangkit berdiri menghindari tangan Tibern yang hendak menyentuhnya. Lagi pula, jika orang itu ada di sini, dia tidak akan bisa meratapi nasibnya dengan tenang. Jadi kemana dia harus pergi? Itu bahkan bukan pertanyaan yang layak dipikirkan. Dia hanya perlu pergi ke tempat yang tidak ada Tibern.
"Hei, kau mau pergi ke mana lagi!"
Saat Ilodel melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, Tibern bergegas mencengkeram pundaknya. Suara tamparan keras terdengar jelas di dalam perpustakaan. Tibern yang tangannya ditepis tanpa sengaja oleh Ilodel menjadi emosi dan mengepalkan tinjunya dengan marah.
"Bajingan ini benar-benar __"
"Apa, kau mau memukulku? Hanya itu yang bisa kau lakukan. Dasar bocah tak beradab."
Ilodel menatap mata Tibern untuk pertama kalinya. Tatapan matanya seolah menantang agar Tibern melakukannya jika berani. Mereka memang selalu bertengkar setiap kali bertemu, tetapi hari ini adalah hari kedatangan ibu dan
Hyung mereka. Jika mereka mengetahui keduanya bertengkar, sudah pasti tak satupun dari mereka akan membiarkannya begitu saja.
Wajah Tibern benar-benar terlihat sangat ingin melayangkan pukulan, tetapi di tengah situasi itu, dia terus-menerus memeriksa jam tangannya. Sepetinya dia tak berbohong ketika mengatakan dia sedang sibuk. Berbeda dengan dirinya yang membuang-buang waktu di akademi yang bahkan tidak menghargainya, Tibern sudah menjadi orang dewasa yang memiliki jabatan di militer. Kalau begitu, daripada membuang waktu di sini, lebih baik dia pergi menangkap beberapa orang bajingan saja. Bajingan keparat. Seorang bajingan menangkap bajingan lainnya, sungguh dunia yang menggelikan.
"Membuat orang sepertimu pingsan dengan satu pukulan adalah hal yang mudah bagiku. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main, jadi ikutilah dengan tenang."
Pada akhirnya, Tibern memilih untuk mengancam daripada menggunakan tinju yang sudah dia kepalkan. Kedua pilihan itu sama-sama biadab. Tampaknya beginilah jadinya jika kamu mencoba mengajari orang biadab cara berbicara.
Tibern yang terus cemberut sepanjang perjalanan di dalam mobil, langsung mendorong Ilodel ke dalam kamar begitu mereka tiba di rumah yang besar itu.
"Kau diamlah di rumah dengan manis. Lagipula, Hyung-nim tersayangmu itu akan datang, jadi hari ini kau pasti akan bersikap baik."
"Enyahlah, keluar dari kamarku."
"Bahkan jika kau memohon agar aku masuk pun, aku tidak akan sudi."
Pintu tertutup dengan dentuman keras, lalu keheningan pun datang menyelimuti. Bersamanya datang rasa sesak. Meskipun itu adalah kamar besar yang dilengkapi dengan kamar mandi dan ruang duduk, tapi bagi Ilodel tempat ini tidak ada bedanya dengan penjara. Biarpun dia hanya orang tidak berguna yang bahkan tidak bisa lulus ujian masuk korps medis, di akademi masih ada orang-orang yang mengakui kemampuannya. Namun, begitu melangkah masuk ke dalam kediaman yang seperti penjara ini, tidak akan ada yang memperhatikannya. Sebuah kekurangan di dalam permata yang sempurna. Putra kedua yang serba kekurangan. Kakak tidak beruntung yang segalanya telah dirampas oleh adik kembarnya... setidaknya, meskipun itu mungkin hanya penilaiannya sendiri.
Mungkin akan jauh lebih baik jika Tibern yang terlahir sebagai Beta. Meskipun dia menjadi si bungsu hanya karena perbedaan waktu beberapa menit, tanggung jawab dan kewajiban yang dipikul pasti akan berbeda. Tentu saja ada pilihan lain di mana dia sendiri yang terlahir sebagai si bungsu, tetapi dia tidak menyukai hal itu. Harus menghormati orang seperti Tibern sebagai Hyung adalah sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Bajingan itu harus tetap menjadi si bungsu. Dan dia seharusnya terlahir sebagai seorang Beta. Jika begitu, dia mungkin akan menganggapnya sedikit menggemaskan.
Ilodel selalu bermimpi untuk menjadi seorang Alpha.
Bermimpi terlahir sebagai Alpha, menerima pendidikan
kepemimpinan seperti orang lain, masuk militer untuk
mendapatkan gelar kebangsawanan, lalu memilih sebuah
wilayah kekuasaan saat waktunya tiba, menikahi seorang istri
yang cantik, dan hidup bahagia berdua saja. Berbeda dengan
sebagian besar Alpha yang penuh ambisi, akhir mimpinya
yang agak romantis ini mungkin merupakan batasan dari
seorang Beta, tetapi bagaimanapun juga, mimpi Ilodel terasa
begitu megah sekaligus sederhana.
Komentar
Posting Komentar