Postingan

1. Cold Land

 Rensley belum pernah merasakan angin dingin sejak lahir. Dalam lagu-lagu penyair dan buku-buku yang ditinggalkan oleh para sastrawan, ungkapan "angin yang menusuk tulang" terkadang muncul, tetapi itu hanyalah tinta di atas kertas. Angin selalu menjadi sahabat terdekat Rensley. Setelah latihan pedang yang berat, angin adalah sentuhan menyegarkan yang mendinginkan keringat dan menyapu rambut. Saat membaca buku di sudut perpustakaan dengan jendela terbuka, angin adalah teman yang nakal, membalik-balik halaman dan kabur. Angin adalah teman yang menemaninya saat berkelana di tepi sungai atau melalui hutan, berlari bersama dalam perlombaan dadakan. Di masa mudanya, angin terasa lebih akrab. Di saat-saat harus menanggung ejekan atau omelan, angin bagaikan saudara yang dengan lembut menyeka air mata yang mengalir tak terkendali. Di loteng yang gelap, terperangkap karena sengatan lebah, angin bagaikan teman yang memastikan dia tidak sendirian. Berlari di tepi sungai atau menembus hut...

1. Salty about

“Apakah kamu sudah memberi makan ikan mas itu?” So Ki-hyun tidak terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara kekasihnya di rumah yang ia kira ia tempati sendirian. Ia menduga itu mungkin karena saat ia melepas sepatunya dan masuk pintu masuknya bersih. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia perlahan melepas bajunya dan melemparkannya ke dalam keranjang cucian. Jo Yeon-oh, yang tadi berbaring di sofa ruang tamu yang gelap, tampak bangkit. Berbeda dengan Ki-hyun yang tingginya sedikit di bawah 180 cm, Jo Yeon-oh bertubuh besar ke mana pun dia pergi. Tinggi badannya, lebih tinggi dari mesin penjual otomatis atau bahkan lemari es, dan bahunya yang kekar, ditambah dengan temperamennya yang buruk, membuatnya tampak mengancam. Mencoba untuk bangun setelah menjejalkan benda sebesar itu ke sofa kecil Ki-hyun terasa seperti tantangan besar. Ki-hyun melirik dari dalam kamar ke arah ruang tamu. Di ruangan yang gelap itu, kepala Jo Yeon-oh sedikit terentang, diterangi oleh cahaya dari akuarium kecil....